Halaman

Minggu, 13 November 2011

"Cobalah Terbuka," katanya

Semalam, seorang teman bilang, “sebenernya aku tahu kenapa kamu tiba-tiba begitu. Ga ada orang yang nangis tanpa sebab.” Katanya, dengan tampang tak acuh. Ini sama, aku ingat seseorang pernah mengatakan hal yang sama, dulu. Entah kapan, entah siapa.

“Jangan terlalu tertutup.” Katanya lagi.

Entahlah, aku memang bersembunyi. Ada banyak dialog, berbantah-bantah di dalam sini. Tanpa ada yang tahu. Aku menyimpannya. Berbicara itu sedikit menyebalkan. Sulit. Kau tahu? Kadang kita tak bisa berhenti sejenak untuk berfikir apakah itu memang benar seperti itu adanya, atau terlalu dibesar-besarkan saja. Berbicara itu melibatkan terlalu banyak emosi. Aku sulit berhenti untuk sebentar mengendapkan rasa. Atau yang terjadi malah sebaliknya. Aku berbicara benar-benar tentang yang sebenarnya, lalu bibirku kelu. Aku menggigil, mengakui kelemahan itu sulit. Kau tahu?

Makanya, seringkali aku lebih memilih menulis untuk jujur. Aku bisa berhenti sejenak untuk berfikir apa yang memang sungguhan terasa di dalam sini. Lalu menghapusnya kalau rasanya terlalu dibesar-besarkan. Aku bisa menangis selama yang kumau sebelum kembali menulis, tanpa merasa akan ada orang yang kucuri waktunya. Tanpa khawatir ada yang menungguku menyatakan rasa, sambil cemas memikirkan jadwal selanjutnya. Menulis itu membuatku lebih objektif memandang sesuatu. Aku bisa berhenti sebentar untuk menyusun kata-kata. Aku bisa bertanya sejenak pada diri sendiri. Aku bisa mengungkapkan, tanpa ada interupsi. Tanpa perlu mendengar intonasi. Tanpa ada airmata yang terlihat jatuh ke pipi.

Aku ingin melukiskan senyum dalam tulisanku, meskipun nyatanya, itu hal yang tak mudah untuk kulakukan dengan ekspresi. Kalau aku kesal, atau tersinggung sedikit saja. Ada airmata yang tiba-tiba melesak-lesak minta keluar. Aku malu hal itu terlihat. Aku sulit mengukir senyum kalau itu terjadi. Toh kalau aku bisa tersenyum, tersenyum sambil mengalirkan air mata luka itu ga akan terlihat kuat. Itu memalukan. Lewat tulisan aku bisa belajar melahirkan pelangi. Aku bisa membuat seolah-olah ada mentari yang bersinar setelah hujan, setelah gerimis. Aku bisa membuat seolah ada cahaya yang menyeruak setelah gelap hadir. Tak kan ada yang tahu apakah aku masih menangis atau sudah tersenyum. Aku bahkan bisa hanya menuliskan pemecahan dari luka yang aku rasakan. Tanpa menuliskan permasalahannya. Aku bisa menyembunyikan airmataku lewat tulisan. Di saat yang sama, aku bisa berjalan sambil terus berusaha untuk menjadi lebih kuat lagi.

0 penjejak:

Posting Komentar

Hey Kamu!
ya, kamu yang baru saja membaca posting ini. Gimana?
Isi komentar di bawah ya..
^^//