Halaman

Sabtu, 12 November 2011

Cuma Sekedar Curhat Kecil

Daripada menjadi mentari, aku kadang berfikir untuk menjadi gerimis. Titik-titik hujan yang merefleksikan cahaya matahari menjadi lebih banyak warna. Kau tahu, itu indah.

Aku kadang berfikir, setiap orang memiliki kapasitasnya masing-masing. Ya, aku tahu. Kadang aku juga berfikir, mungkin kapasitasku ada di bawah yang lainnya. Sedih juga menerima fakta seperti itu begitu saja. Tapi aku tak pernah mengintip buku takdir barang sekalipun. Jadi, untuk apa menerimanya begitu saja? Aku ingin, meskipun aku memiliki kecerdasan emosi yang tak setinggi mereka, atau intelektual yang tak setinggi mereka, bahkan untuk saat ini kecerdasan spiritualkupun tak jua melampaui mereka. Lalu apa yang bisa dibanggakan? Ya, masalahnya adalah apa yang bisa “dibanggakan”? Apa karakter unggulan yang akan kubangun? Sambil berfikir begitu aku terus berjalan. Tapi kemudian, sebuah film mengingatkanku “daripada terus berfikir tentang apa yang menjadi kelebihanmu, lebih baik menjalani apa saja yang mau kau lakukan. Sudah itu, dengan sendirinya kelebihan itu akan muncul”.

Aku mungkin tak seterang mentari. Tapi, aku ingin bisa merefleksikan cahaya putihnya menjadi lebih dari tujuh warna. Aku mungkin memang tak seindah pelangi yang tampak setelah gerimis petang, tapi setidaknya aku ingin membuat pelangi itu, aku ingin bisa menghadirkan pelangi itu. Meskipun memang, aku tak memiliki cahaya seterang cahaya matahari.

Dengan cara apa? Hal itu tentu saja aku belum tahu. Mungkin setidaknya, yah, setidaknya. Aku akan belajar ceria. Aku akan belajar untuk tampak kuat, kalau belum bisa menjadi kuat seutuhnya. Aku akan berhenti mengenal rasa “tak suka”, apalagi “marah”. Aku mau mendidik semua rasa itu biar hanya aku yang tahu, meski sulit. Sambil melatih itu semua, aku juga akan belajar maju. Aku tahu langkah kecil saja tak akan cukup. Tapi lompatan besar akan menghadirkan banyak suara. Aku takut kalau aku masih belum cukup kuat untuk menghadapi suara-suara, atau bahkan justru takut aku akan merasa hilang kalau tidak ada suara yang muncul.

Kalau aku boleh berharap. Aku ingin memiliki satu syurga kecil. Kecil saja, tak perlu terlalu besar agar aku bisa menghilang. Hilang dari pandangan orang-orang. Aku ingin memiliki satu taman kecilku, dimana hanya ada aku dan suara-suara yang menenangkan hati. Dimana hanya ada aku, dan diriku, lalu aku. Disitu aku bisa puas melihat hal yang kusuka, berbuat yang kumau, mendengar hal-hal yang positif saja. Aku bisa berdialog dengan aku saja. Lalu bermetamorfosa tanpa khawatir menjadi terlihat atau malah hilang. Ini harapan yang penuh keegoisan untuk menjadi baik di tempat yang baik. Aku tahu ini tak seharusnya ada dalam fikirku. Tapi, semakin harapan ini ingin dihilangkan, ia malah semakin dibutuhkan. Jadi biarlah, setidaknya aku merasa sedikit berada disana saat aku menggambarkannya dalam tulisan.

Karena RUNA adalah “Rune” atau sihir dan AVIENA adalah “Afina” yang bermanfaat. Itulah, aku harus bisa menjadi seorang yang pantas menjadi baik “Qothrunnada” maupun “Runa Aviena”. Menjadi embun yang menyejukkan hati, dan menghasilkan sesuatu yang dapat menciptakan ‘sihir-sihir’ kecil yang memberi manfaat pada orang lain.
Meskipun Shakespeare dalam karyanya menngatakan “Apalah arti sebuah nama”, tapi Rasul berkata bahwa “nama adalah sebuah do’a”. Dan semoga do’a ini dapat terwujud. Bukan “suatu hari”, tapi “as soon as possible”.

.I’m not exactly lonely, maybe.

0 penjejak:

Posting Komentar

Hey Kamu!
ya, kamu yang baru saja membaca posting ini. Gimana?
Isi komentar di bawah ya..
^^//