Semakin aku memandang, aku malah semakin tak mengerti. Ini hanya seperti kisah dalam film-film roman mana saja. seorang teman mengatakan, "Kenapa naskah selalu tak adil, mereka yang setia menunggu, selalu berakhir dengan menatap bayang. Lalu si tokoh utama berlari kepada mereka yang baru tiba, yang memulai dengan riak-riak terkadang percik api".
Ini tentang cerita yang terhampar di hadapku. Haruskah begitu? Ini tentang mereka yang pernah mengenyam hidup di tempat yang sama. Iyakah begitu?
Para prianya yang begitu perhatian. seperti drama-drama remaja. Melankolik. mencari, berpetualang. Sebuah keseriusan? Hampa, tak dapat hidup tanpa keberadaan siapa yang terus mereka bilang "tulang rusuk yang hilang". Iyakah tulang rusuk dapat terus berganti?
Lalu wanitanya yang begitu sederhana. seperti drama pula. polos. apa adanya. sedikit mudah merajuk, lalu cantik, mesti tak selalu. tapi tetap saja mudah menangis, lalu terhanyut. "Luka cinta hanya dapat dihapus dengan cinta yang baru". Teori apa ini?
Mereka bilang cinta datang cepat pada mereka yang berfikiran sederhana. yang memiliki ketulusan tinggi. memberi harap meski mereka berdalih tak sengaja. Tak sengaja, maka tak mengapa, lalu teruskan saja.
mungkin aku skeptis. mungkin juga aku cemburu. saat kita berbeda concern, bicara kita tak lagi saling terkait. Ya, aku cemburu. saat teman bicara, hanya memandang ke arah pasangannya saja. Ya, aku cemburu, saat pandangmu dan pandangku tak lagi sama. kita jadi membicarakan hal yang berbeda. Aku di laut, kau di lembah, lalu kita berbicara tentang tempat kita masing-masing. Tak lagi menyenangkan.
Kumohon, berlarilah sedikit. aku ingin kita terus bersama. membicarakan hal-hal yang meningkatkan semangat masa depan. Kumohon, berlarilah sedikit... atau haruskah aku yang menyusulmu, memilih satu dari mereka agar kita bisa satu pandang?
mungkin aku skeptis. mungkin juga aku cemburu. saat kita berbeda concern, bicara kita tak lagi saling terkait. Ya, aku cemburu. saat teman bicara, hanya memandang ke arah pasangannya saja. Ya, aku cemburu, saat pandangmu dan pandangku tak lagi sama. kita jadi membicarakan hal yang berbeda. Aku di laut, kau di lembah, lalu kita berbicara tentang tempat kita masing-masing. Tak lagi menyenangkan.
Kumohon, berlarilah sedikit. aku ingin kita terus bersama. membicarakan hal-hal yang meningkatkan semangat masa depan. Kumohon, berlarilah sedikit... atau haruskah aku yang menyusulmu, memilih satu dari mereka agar kita bisa satu pandang?
Ya, aku egois. aku belum bisa mengambil keduanya. memaklumimu dan tetap menatap lurus di jalan yang saat ini kutempuh.
Ya, mungkin aku semakin kaku. menikahlah. maka tak akan ada protes dariku lagi. Menikahlah. Kalau belum bisa, tanya akalmu tentang keseriusan, tanya akalmu tentang kepastian, tanya akalmu tentang masa depan. Kalau sudah, tanya hatimu tentang ketulusan, lalu tanya hatimu tentang kesiapan. kalau memang siap, yakinkan semua di sekitarmu agar mereka mendukung. maka aku akan ikut tersenyum tulus bersamamu.
Aku tak menafikkan tentang rasa. itu manusiawi. Tapi tidak tentang jalinan, bagaimanapun aku masih sulit memaklumi.
Aku tak menafikkan tentang rasa. itu manusiawi. Tapi tidak tentang jalinan, bagaimanapun aku masih sulit memaklumi.
Lain wanita, lain pria. kenapa melihat mereka malah semakin membuatku sakit? kenapa melihat mereka semakin membuatku ingin menangis? meski tak semua, tapi cukup membuat kecewa. Inikah potret pria yang kerap dipanggil "ikhwan" yang notabene pernah mengenyam pendidikan di sebuah pondok? Inikah? Inikah?
Bahkan melihat teman kampus yang tak disapa "ikhwan" pun terasa lebih teduh. Atau aktivis kampus yang tak mengenyam bangku pondok jauh lebih kharismatik dan berwibawa. Inikah ikhwan yang katanya.... ah, tak perlulah. Semakin sulit saja mengukir senyum kala mengingat teman-teman alumni. Kecewa? Mungkin saja..
Bahkan melihat teman kampus yang tak disapa "ikhwan" pun terasa lebih teduh. Atau aktivis kampus yang tak mengenyam bangku pondok jauh lebih kharismatik dan berwibawa. Inikah ikhwan yang katanya.... ah, tak perlulah. Semakin sulit saja mengukir senyum kala mengingat teman-teman alumni. Kecewa? Mungkin saja..
Ya, ya, ya..
Kau boleh berkata sesukamu, akupun sangat jauh dari sempurna. Akupun tak suci. Dan pastinya akupun bukan alumni yang memiliki "track record" baik selama jadi santri.
Ya, aku tak jauh berbeda dari kalian. Lalu seharusnya aku tak pantas menangis? Apa kemudian aku tak pantas kecewa?
Kau boleh berkata sesukamu, akupun sangat jauh dari sempurna. Akupun tak suci. Dan pastinya akupun bukan alumni yang memiliki "track record" baik selama jadi santri.
Ya, aku tak jauh berbeda dari kalian. Lalu seharusnya aku tak pantas menangis? Apa kemudian aku tak pantas kecewa?
Aku sakit, tak hanya untuk kalian. Tapi juga untuk aku. Andai bisa, aku ingin hapus semua kejadian yang pernah terjadi kemarin. Aku ingin mengulang dan memilih untuk tak melakukan kesalahan. Lalu apa hakku untuk sakit? Apa urusanku untuk kecewa? Karena aku sayang, amat sayang hingga aku merasa sakit bahkan untuk mereka yang tak terlalu kukenal dekat. Kita satu ikatan, meski hanya ikatan alumni.
Aku telah berkata, aku telah mengungkapkan berulang kali sejak lama. Terkadang lewat tulisan dalam grup. Atau ungkapan sekelebat. Atau bahkan ucapan langsung saat ada kesempatan. Dan mungkin kau sudah lupa. Manusia itu hebat, hanya mendengar apa yang mau dia dengar.
Kalau bukan disini, lalu dimana boleh kuungkapkan? Ucapan langsung untuk kemudian dilupakan?
Kalau bukan disini, lalu dimana boleh kuungkapkan? Ucapan langsung untuk kemudian dilupakan?
0 penjejak:
Posting Komentar
Hey Kamu!
ya, kamu yang baru saja membaca posting ini. Gimana?
Isi komentar di bawah ya..
^^//