Halaman

Rabu, 01 Februari 2012

Pondok, Kampus, dan Aku

Di tempat itu sebenarnya tak ada yang berbeda. Kita berbincang sebagaimana orang lainnya. Kita bergurau sebagaimana orang di luar itu. Tak ada yang berbeda. Hanya mungkin saat kau memandang sesuatu dari luar, semua memang akan tampak berbeda dari tempatmu berdiri. Maka, melangkahlah. Mulailah memasuki tempat itu.

Di tempat itu, tak ada yang berbeda. Ya, tak ada yang berbeda. Hanya cara mereka menatap mata-mata sahabatnya terasa begitu hangat. Hanya kata yang mengalir dari mereka, seringkali terasa begitu tulus. Hanya kedekatan antara satu dengan lainnya, meski tak satu gender, terasa begitu biasa. Biasa dalam arti tak ada hati-hati yang meletup-letup. Tak ada langkah-langkah tersirat apatah lagi tersurat untuk semakin dekat.

Mereka sama dengan tempat lainnya. Remaja biasa, meski beberapa sudah berkepala dua. Mereka sama, hanya berbeda dalam cita, hanya berbeda dalam visi, hanya berbeda dalam memandang tujuan hidup di dunia. Karenanya, entah karena apa aku justru semakin nyaman dengan komunitas itu. Saat ada kegersangan-kegersangan kecil yang sesekali hadir, mereka bisa menyiramnya. Bahkan apa yang kusebut "rindu" mereka lebih bisa membayarnya daripada pertemuan-pertemuan dengan teman SMA, pondok mereka menyebutnya.

Aku bukan menafikkan kehadiran teman masa lalu. Hanya saja, sesekali kita perlu "rumah singgah" sekedar untuk melepas penat. Menyiram lagi hati yang hampir gersang. Tempat itu entah sejak kapan telah menjadi rumah keduaku, lalu yang ketiga blog ini, dan teman pondok sebagai rumah keempat. Itu hanya sekedar tingkat-tingkat dengan jarak kurang dari luas jari, sangat rapat. Maka sesungguhnya tak ada yang berbeda di antara keempatnya.

Mungkin justru aku yang sebenarnya hampir tenggelam dalam euforia masa lalu. Euforia masa remaja yang penuh sensasi. Kenangan di pondok yang terasa begitu tulus, polos, hangat, akrab, dan kekeluargaan.
Kadang aku merasa kehilangan, mungkin justru karena aku yang jauh dan kaku. Saat bertatap muka pun kadang ada sesuatu yang terasa sedikit berbeda.
Yah... lagi-lagi. Aku merasa sendiri. Entah kenapa, aku memang orang yang mudah merasa sendiri. meskipun, pada setiap perjumpaan, reuni-reuni dan semacamnya, aku selalu cukup ceria -kurasa-. hanya saja, ada yang berbeda. meski kecil, aku tahu ada yang berbeda. Atau justru aku yang berubah? menjadi semakin saklek mungkin. Terlalu kaku. entahlah...

0 penjejak:

Posting Komentar

Hey Kamu!
ya, kamu yang baru saja membaca posting ini. Gimana?
Isi komentar di bawah ya..
^^//