Halaman

Senin, 16 Januari 2012

Yang Semakin Abu-Abu

aku ingin kita berjalan. bersama lagi meski tujuan kita berbeda. aku ingin kita kembali baik, meski mungkin sangat sulit. aku bukan berharap kau mengulurkan tangan lagi seperti waktu itu. Tapi kau yang terasa dengan sengaja membuat keadaan yang seperti ini itu menyebalkan. kita hanya dibatasi satu dinding kaca. aku di sebelah sini dan kau di sebelah satunya. mendapati bahwa bayangmu tanpa sengaja masuk ke retinaku meski aku tak lagi ingin. mendapati bahwa suaramu bercakap memasuki indera pendengaranku meski aku sudah berusaha tuli. aku tak mengerti dengan apa yang berlangsung sejauh ini. kau masih menjalin hubungan baik dengan semua yang ada di sekitarku. tapi tidak denganku.

entahlah, mungkin ada sesuatu yang begitu melesak, kalau tak bisa kusebut dengan kesal, apalah lagi benci. mendengar namamu semakin lama aku semakin buta. buta dengan kebaikanmu yang mungkin dulu pernah kuakui. buta dengan semua kebaikanmu yang beberapa mungkin memang tulus. seiring hari yang berganti, dan sikapmu yang seolah memang dengan sengaja membuat perbedaan, antara sikapmu padaku, dan sikapmu pada semua orang di sekitarku. kau seakan dengan sengaja memilih diam, membatu, jika tak ada orang yang dapat menjadi perantara komunikasi kita, meski aku --dengan segala kesal yang coba kutahan-- mencoba mencairkan kekakuan ini.

kau abu-abu. abu-abu yang semakin pekat setiap harinya. setiap usahaku untuk mencoba meleburkan kesal ini selalu kau hempas. aku tak ingin mendapati bahwa sekian tahun lagi aku menemukanmu muncul di retinaku lalu tiba-tiba kesal itu membuncah. menolak kehadiranmu dengan segala cara. aku tak mau menjadi orang yang kalah dengan emosi. kenapa tak abaikan kau saja? bagaimana mungkin kau kuabaikan sementara kau tak jarang memamerkan suara dan perhatian dengan orang yang ada dalam satu lokasi denganku. aku bahkan tak tahu alasanmu bersikap begitu. adakah aku yang salah? tapi aku sudah memutuskan berhenti meminta maaf padamu. aku sudah sering melakukannya dulu sebelum kau semakin mengesalkan. tapi kau hampir tak pernah meminta maaf disaat yang seharusnya, kau memang pernah mengatakan "maaf" hanya pada saat kata maaf itu hampir tak berarti, hanya pada saat kau tak melakukan apapun yang salah. tapi saat dimana kau memang perlu mengatakannya, hingga kini tak sekali pun kau mengatakannya.

Aku mungkin sudah buta. buta dengan kebaikanmu. semua yang hadir saat kudengar namamu kini tak ada lagi yang terdengar baik. sesak, dan harap ingin benar-benar menghapusmu. aku mulai subjektif disini. untuk pertama dan terakhir kalinya aku seperti ini -semoga-.

Ini masih belum puncak. masih hampir. aku masih dapat menahan segala kesal ini.

Allahumma kuatkan, jangan sampai aku jatuh, apalagi membenci.

2 komentar:

  1. Keep spirit mbak :)
    Semoga baik lagi.

    btw kemarin2 kotak komentnya ini ketutup sama widget yang jatuh2 itu. entah apa namanya.
    jadi susah buat ngoment.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiin, makasii mas..
      :)

      iya, saya juga baru sadar kemarin kalo widget yang itu mengganggu, makanya dipindah..
      ^^"a

      Hapus

Hey Kamu!
ya, kamu yang baru saja membaca posting ini. Gimana?
Isi komentar di bawah ya..
^^//