mungkinkah kita mesti pergi jauh, agar tak ada yang mengenal kita, dan kita dapat menjadi -setidaknya-tampak lebih baik di mata mereka yang pernah tahu bagaimana kita?
kemarin, di kontrakan ada yang bilang, "masa' aku disuruh jadi murobbiyah. Yang bener aja!"
Aku melengos lagi. untuk yang ke sekian kali. Di sini ada dakwah kampus, seperti kampus-kampus lain. Ada Lembaga Dakwah Kampus. Seperti kampus lain juga. Dan ada aku di dalam kelembagaan itu. Tapi, ada satu lagi. Tempat dimana aku ingin disana. Para aktivis yang tampaknya berfikiran tajam, dan "kelas atas" kalau bisa dibilang.
Kadang iri juga dengan mereka yang berada di kalangan minoritas aktivis, dan "terpaksa" menjadi pelaku dakwah itu sendiri. Hahha, saya yang masih suka ngeluh ini masih belum pantas ada di antara mereka ya?
Di kampus ini kami bertujuh. Satu atau bahkan mungkin dua di antara sudah memiliki binaan. Dan kalau ditambah orang yang barusan disebut, jadi ada dua atau mungkin tiga orang. (yang satunya aku ga tau pasti). Di kelompok liqo aku kita bertujuh, lima dari sekolah yang sama, dan dua dari sekolah yang berbeda. Satu di antaranya sudah punya binaan, dan mungkin akan menjadi dua orang. Ini suatu kemajuan memang. Hanya saja, tak menjadi satu di antaranya itu yang membuat aku sedih. Tiba-tiba ada perasaan takut tertinggal. aku ga mau jadi orang luar, atau jadi orang yang hanya "sekedar" pernah mencicipi lingkungan dakwah.
Yah, seharusnya aku bukan lari ke tempat yang belum kondusif. Tapi semakin memperbaiki diri, supaya bisa layak ada di lingkungan kondusif ini. Atau tepatnya, lingkungan kondusif "disana".
Ya, aku mau berada di antara mereka.
Sangat ingin.
Tampilkan postingan dengan label dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dakwah. Tampilkan semua postingan
Rabu, 12 Oktober 2011
Kamis, 11 Agustus 2011
Sebuah Pelajaran Dakwah dari Manga
"Kalau lemah, lebih baik beri jalan ke atas, kalau kuat lebih baik tunjukkan jalan ke atas. Di tangan orang yang hanya berkaca pada masa lalu, masa depan hanyalah sebuah kehancuran"
saya nemu kalimat itu abis baca komik Kyo Samurai Deeper. komik lama sih, udah dari jaman kapan tau di rekomendasiin, tapi baru sempet baca beberapa waktu belakangan ini.
Oke, balik lagi ke kalimat di atas. saya nangkep dua hal penting di kalimat di atas. cukup nyinggung diri saya juga rasanya. hahha...
jadi, saya masuk ke golongan yang lemah atau kuat?
oke, bukan itu yang penting..
saya baca kalimat itu sampe tiga atau empat kali, saya pelototin, kok rasanya bagus, kok rasanya pas. tapi apa ya? saya mikir, saya baca lagi berulang-ulang.
ini komik emang bisa dibilang kasar, (iyalah, namanya juga tentang samurai) tapi dari komik kaya gini entah kenapa saya malah kepikr tentang jalan dakwah.
ga sinkron?
ahh sudahlah, ini hanya tentang bagaimana melihat sesuatu khan?
sekali lagi, jadi saya kuat atau lemah?
apapun jawabannya sebenarnya itu ga ada pengaruhnya.
saat kita berfikir kita lemah, posisi kita belum kuat untuk menjadi tulang punggung sebuah pergerakan, maka yang kita perlukan adalah menjadi seseorang yang bisa menjadi pengiring mereka yang disebut "pemimpin". mengantar mereka mencapai sebuah kepemimpinan yang berlandaskan islam.
hahha, aneh rasanya kalau saya menyebut sesuatu yang besar begini, kita sederhanakan sajalah dalam ruang lingkup dakwah yang lebih kecil : membantu terciptanya lingkungan yang islami.
lalu, kalau kita merasa kuat dan memiliki pengaruh. maka jangan ragu untuk maju dan menyerukan apa yang kita mampu. kharisma yang digunakan di jalan yang seharusnya, ide ide brilian yang ditempatkan agar dakwah itu sendiri semakin berkilau. kepekaan yang menjadikan orang di sekeliling kita tak lagi merasa tersisih. atau kemampuan akademik yang bisa kita tularkan ke orang sekitar. apa saja. kemampuan yang kita rasa ada pada kita, salurkan. tanpa rasa ragu.
hal kedua yang saya fikirkan adalah tentang masa lalu. berkaca pada masa lalu yang berarti kehancuran.
yah, bisa jadi.
kita yang hidup di masa kini tak mesti harus menjadi pantulan bagi masa kemarin. kita memiliki masa kita sendiri. maka yang kita perlukan adalah berjalan menatap masa depan. bukan hanya sekedar menjadi "copy" dari masa lalu.
melihat ke depan, membangun peradaban yang lebih maju dengan menjadikan masa lalu sebagai contoh untuk evaluasi. bukan contoh yang harus ditiru mentah-mentah.
wallahu a'lam bisshawab
.: menjelang buka puasa:.
note : terbuka untuk kritik.. ^^
saya nemu kalimat itu abis baca komik Kyo Samurai Deeper. komik lama sih, udah dari jaman kapan tau di rekomendasiin, tapi baru sempet baca beberapa waktu belakangan ini.
Oke, balik lagi ke kalimat di atas. saya nangkep dua hal penting di kalimat di atas. cukup nyinggung diri saya juga rasanya. hahha...
jadi, saya masuk ke golongan yang lemah atau kuat?
oke, bukan itu yang penting..
saya baca kalimat itu sampe tiga atau empat kali, saya pelototin, kok rasanya bagus, kok rasanya pas. tapi apa ya? saya mikir, saya baca lagi berulang-ulang.
ini komik emang bisa dibilang kasar, (iyalah, namanya juga tentang samurai) tapi dari komik kaya gini entah kenapa saya malah kepikr tentang jalan dakwah.
ga sinkron?
ahh sudahlah, ini hanya tentang bagaimana melihat sesuatu khan?
sekali lagi, jadi saya kuat atau lemah?
apapun jawabannya sebenarnya itu ga ada pengaruhnya.
saat kita berfikir kita lemah, posisi kita belum kuat untuk menjadi tulang punggung sebuah pergerakan, maka yang kita perlukan adalah menjadi seseorang yang bisa menjadi pengiring mereka yang disebut "pemimpin". mengantar mereka mencapai sebuah kepemimpinan yang berlandaskan islam.
hahha, aneh rasanya kalau saya menyebut sesuatu yang besar begini, kita sederhanakan sajalah dalam ruang lingkup dakwah yang lebih kecil : membantu terciptanya lingkungan yang islami.
lalu, kalau kita merasa kuat dan memiliki pengaruh. maka jangan ragu untuk maju dan menyerukan apa yang kita mampu. kharisma yang digunakan di jalan yang seharusnya, ide ide brilian yang ditempatkan agar dakwah itu sendiri semakin berkilau. kepekaan yang menjadikan orang di sekeliling kita tak lagi merasa tersisih. atau kemampuan akademik yang bisa kita tularkan ke orang sekitar. apa saja. kemampuan yang kita rasa ada pada kita, salurkan. tanpa rasa ragu.
hal kedua yang saya fikirkan adalah tentang masa lalu. berkaca pada masa lalu yang berarti kehancuran.
yah, bisa jadi.
kita yang hidup di masa kini tak mesti harus menjadi pantulan bagi masa kemarin. kita memiliki masa kita sendiri. maka yang kita perlukan adalah berjalan menatap masa depan. bukan hanya sekedar menjadi "copy" dari masa lalu.
melihat ke depan, membangun peradaban yang lebih maju dengan menjadikan masa lalu sebagai contoh untuk evaluasi. bukan contoh yang harus ditiru mentah-mentah.
wallahu a'lam bisshawab
.: menjelang buka puasa:.
note : terbuka untuk kritik.. ^^
Langganan:
Postingan (Atom)